Kutai Timur (15/9/2022) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menggandeng akademisi untuk bersama sama mendorong petani “naik level”, kesempatan itu datang kepada Program Studi Agroekoteknologi Universitas Diponegoro yang diwakili oleh Muhamad Ghazi Agam Sas, S.P., M.Si. (Agam) sebagai salah satu dosen di Prodi S1-Agroekoteknologi.

Melestarikan Varietas Lokal merupakan upaya dalam menjaga kekayaan negeri. Keterlibatan petani dalam melestarikan varietas tersebut menjadi faktor yang akan berpengaruh besar bagi keberlanjutan pangan negeri.

“Sayangnya beberapa varietas padi gunung yang dahulu kami budidayakan saat ini sudah tidak ada karena sebagian petani sudah beralih budidaya padi sawah” menurut Kabag Dinas Pertanian Kutai Timur.

Pengembangan varietas pada komoditas pangan saat ini menjadi upaya yang harus digeluti dengan gigih oleh para peneliti. Akan tetapi sebagian besar varietas yang “dirakit” belum banyak bisa terserap oleh petani sebagai pelaku utama dalam budidaya pertanian. Selain itu juga preferensi setiap daerah memiliki kekhasannya masing-masing.

“Masyarakat kutai timur khususnya Desa Miau Baru memiliki preferensi yang unik dalam memilih jenis padi (beras), ternyata menurut petani-petani disana mereka lebih menyukai bulir padi yang berbentuk bulat seperti halnya padi yang dahulu mereka pernah budidayakan selagi mereka meladang padi gunung” ujar Agam.

“Kekhasan ini yang sangat berarti bagi pengembangan varietas yang selanjutnya perlu dikembangkan. Selain itu, tekstur nasi yang pulen menjadi karakter utama juga yang perlu dipertimbangkan” lanjutnya.

Dalam dunia pemuliaan tanaman hal seperti ini dimaksud dengan Participatory Plant Breeding atau Pemuliaan Tanaman Partisipatif, melalui metode seperti ini perakitan varietas tanaman akan tepat sasaran sehingga kelak dapat terserap oleh masyarakat.

Foto Bersama Kelompok Tani Desa Miau Baru dalam Acara Sarasehan IV